Khamis, 5 Ogos 2010

Intuisi, Rasio, dan Empiris

Tercatit di kitab kalam Aqaid an-Nasafi, muallifnya menyebut tiga sumber ilmu iaitu wahyu (barangkali boleh dikelaskan sebagai intuisionisme), akal (rasionalisme) dan indera (empirisme). Ini epistemologi cara Islam.

Jelaslah falsafah ilmu Islam tidak sesekali mendualkan alam ghaib dan alam nyata, sekaligus mengithbatkan kewujudan alam di luar alam nyata yang tak bisa dicapai logika dan indera. Itulah alam ghaib, atau alam intuisi. 

Amat paradoks dengan barat, tamadun mereka yang bangkit dan sampai sekarang masih gagah berdiri sesungguhnya tertegak di atas asas epistemologi rasionalisme dan empirisme sahaja. Ahli2 fikir yang bertanggungjawab meletakkan batu asas tamadun Barat itu, mereka mengikut jalan rasio, kalau tidak empiris, untuk sampai ke daerah kebenaran.


Pengenalan faham rasionalisme dan empirisme 

Pada abad 17 Masehi telah ditemukan sumber kebenaran (ilmu), ya’ni akal atau rasio, dan pengalaman atau empiri. Dari yang pertama muncul aliran rasionalisme, dan yang kedua empirisme.
Descartes sebagai bapak rasionalisme berusaha menemukan suatu kebenaran yang tifak diragukan dengan memakai kaedah deduktif. Dia yakin, kebenaran-kebenaran semacam itu ada dan kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan caranya yang terang dari akal budi.

Berbeda dengan rasionalisme, maka empirisme dalam usahanya yang sama (saya: menemukan
kebenaran) memakai pengalamn indrawi yang sesuai. John Locke, bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa pada waktu wanita melahirkan anaknya, pada bayi itulah merupakan sejenis buku catatan yang kosong (tabularasa). Dalam buku catatan itulah direkam pengalaman-pengalaman indrawi. Seluruh sisa pengalaman itu diperoleh dengan jalan menggunakan indra yang pertama dan sederhana tersebut.

Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampung, yang secara pasif menerima hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun obyek-obyek material. Metod yang dipergunakan emperisme ialah berfikir induktif.

(sumber : tulisan Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA, Indonesia)

Wahyu Tuhan membawa khabar yang tak bisa ditanggap oleh rasio dan indera

Tamadun Barat yang dibilang hebat dengan modenitinya, sains dan teknologinya, saat ini menjadi tumpuan rasa kagum bangsa Timur lalu tertarik mencontohinya. Tanpa sedar, nilai-nilai empiris dan rasio (yang menafi intuisi) kepunyaan Barat menyelimuti manusia seluruhnya. Inilah sekularisme global, penyakit pemikiran yang melanda umat manusia saat ini.

Baratlah pemula tradisi sekularisme dan materialisme lantaran dasar faham ilmunya.. Awal abad ini pula adalah giliran faham pascamodenisme menguasai dunia. Kesannya, Tuhan hampir hilang terus dari pandangan alami manusia !

Maka Neitcze masyhur dengan ungkapan keterlaluannya : “Tuhan telah mati”. Ungkapan inilah yang masih bergema teriakannya di zaman ini, sungguh kuat dengungannya.

Ini bencana besar!

Oleh kerana itulah, Al-Attas amat menekankan isu besar ini lewat Islam dan Sekularismenya, juga Risalah, dan beliau juga menyediakan penawar bencana ini iaitu islamisasi ilmu selain faham ta’dib.

Dicatitkan:
16:36, 22/07/2010M,
Darul Quran, Hulu Selangor.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan